18.4.12

Pendakian Ke Gunung Rajabasa

Tim Kaldera yang anggotanya terdiri atas James, Deky, Habib, Fandi dan Deni mempunyai rencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango pada Juni 2012. Sebagai pemanasan Tim Kaldera beserta Tim SMAN 9 Bandar Lampung yang diwakili oleh Indra melakukan pendakian ke Gunung Rajabasa pada tanggal 6-7 April 2012.

Gunung Rajabasa yang mempunyai ketinggian 1.281 meter dpl terletak di kab. Lampung Selatan yang beribukota di Kalianda. Jika Kita menuju Bandar Lampung dari Bakauheni, Kita akan melewati kota kecil yang bernama Kalianda ini. Kami sendiri memerlukan 2 jam perjalanan mobil dari Tanjung Karang-Bandar Lampung menuju Kalianda yang kemudian dilanjutkan ke desa terdekat, yakni desa Sumur Kumbang. Berdasarkan informasi dari Guide Kami, desa ini letaknya hanya 6 km dari puncak Rajabasa.


Pendakian awalnya Kami rencanakan sore hari, namun akhirnya baru bisa memulai pendakian jam 8 malam berhubung Guide yang bernama “Mas Bule” baru turun gunung menjelang maghrib. Namanya sesuai karena emang rambutnya pirang sejak lahir termasuk saudara perempuannya. Ternyata Mas Bule yang oleh warga sekitar dipanggil Sule mengantar 3 orang yang mempunyai “misi khusus”. Kami memerlukan Guide untuk mengupdate informasi terbaru mengenai Gunung Rajabasa maupun menunjukkan arah jalan pendakian serta menjaga barang-barang Kami yang nantinya akan ditinggalkan di Pos 1.

Mas Bule salut dengan Kami yang melakukan pendakian perdana di Gunung Rajabasa yang medannya selalu menanjak sepanjang pendakian. Katanya kalo udah bisa mendaki Gunung Rajabasa maka gunung apa aja pasti bisa Kami daki. Sebenarnya James dari Tim Kaldera sudah berpengalaman mendaki gunung apalagi Indra dari Tim SMAN 9 Bandar Lampung sudah 3 kali melakukan pendakian ke Gunung Rajabasa.

Sebelum pendakian Kami stay di rumahnya Bule dengan hidangan kopi hitam dan obrolan ringan seputar Gunung Rajabasa. Tentunya Bule memberikan arahan kepada Kami mengenai perilaku selama pendakian seperti dilarang berkata jorok maupun pantangan dilarang mematahkan ranting untuk api unggun. Dalam obrolan itu juga Kami mengetahui adanya rencana Pemkab Lampung Selatan dan Menteri Kehutanan yang berencana menjadikan Gunung Rajabasa sebagai Taman Nasional. Rencana tersebut ditolak oleh warga sekitar yang mayoritas mengandalkan ladang di sekitar Gunung Rajabasa. Taman Nasional itu akan memakan ladang coklat, kopi maupun cengkeh mereka karena diperkirakan luasnya mencapai 70 hektar. Selain itu sebelum pendakian juga akan ada perijinan yang harus diurus oleh para pendaki, tidak seperti sekarang yang masih bebas.

Menuju Pos 1
Malam itu tanggal 6 April 2012 yang bertepatan hari Jum’at, bulan memperlihatkan purnamanya dan bintang gemintang tersenyum kepada Kami seolah mengatakan “Welcome to Rajabasa Mountain guys, enjoying your climbing”. Sepanjang perjalanan menuju Pos 1 medan yang Kami lalui menanjak dengan beberapa kontur mendatar. Karena perjalanan dilakukan malam hari Kami hanya mengandalkan arah yang ditunjukkan oleh Bule. Kamipun baru mengetahui kalau sepanjang perjalanan yang Kami lewati adalah ladang coklat penduduk desa Sumur Kumbang ketika Kami turun keesokan harinya.

Medan yang menanjak plus carrier yang penuh dengan logistik mengharuskan Kami istirahat setiap 20-30 menit sekali. Suggestion untuk pendaki agar tidak meminum air terlalu banyak selama berjalan karena akan melemaskan tubuh. Minum diperbolehkan hanya untuk menjaga mulut dan tenggorokan tetap basah. Setelah Kami melakukan pendakian setikar 1,5 jam tiba-tiba cuaca berubah mendadak, gerimis mulai turun. Inilah perlunya membawa jas hujan atau jaket anti air serta carrier yang ada penutupnya.

Setengah jam berikutnya kami tiba di Pos 1. Kami segera mendirikan 2 tenda dome yang Kami bawa. Ternyata Bule membawa terpal tipis yang digunakan untuk melindungi tas Kami sebelum tenda berdiri. Segera setelah selesai hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah merebus air untuk menuangkannya ke dalam kopi instan. Tubuh Kami perlu tetap hangat agar tidak masuk angin. Bule ternyata sudah antisipasi dengan membawa kompor dengan bahan bakar sepirtus. Berbeda dengan kompor bahan bakar gas tabung yang sulit dinyalakan pada saat hujan, sepirtus tetap menyala walau bercampur air hujan. Sepirtus juga Kami gunakan untuk menyalakan api unggun dengan menyiramkan ke ranting-ranting yang basah secara bertahap.

Fenomena alam yang aneh terjadi malam itu, walaupun hujan bulan tetap bersinar. Malam yang Kami lewatkan di Pos 1 lebih sering hujan dari pada terang. Pos 1 sendiri luasnya tidak seberapa hanya cukup untuk 4 tenda dome dengan kapasitas 4 orang. Tempat ini dijadikan Pos 1 karena dekat dengan sungai yang jernih dan hanya memerlukan 2 jam perjalanan dari desa Sumur Kumbang. Sungai penting untuk MCK dan sumber air minum.


Sungai yang jernih di Pos 1


Breakfast in Post 1






Going To The Peak of Rajabasa Mountain
Setelah sarapan nasi dengan mi instan plus telur serta lauk yang Kami bawa, tepat jam 8.30 WIB Kami melakukan pendakian ke Puncak Rajabasa. Kami meninggalkan carrier Kami di Pos 1 dengan penjagaan Bule. Kami hanya membawa sebotol air sungai ukuran 1,5 liter plus makanan ringan serta mi instan+kopi tak lupa kompor dan tabung gasnya. Kami merencanakan makan mi dan ngopi di Puncak Rajabasa.

Untuk mencapai puncak Kami harus melewati 4 Pos lagi, sehingga totalnya ada 5 Pos di Gunung Rajabasa ini. Rute menuju puncak relatif terlihat jelas dari bekas para pendaki sebelumnya. Perjalanan menuju Pos 2 masih ditemui ladang milik warga dengan tanaman kopi maupun cengkeh yang telah menua. Ada istilah "gerbang rimba" dalam pendakian menuju Pos 2, maksudnya adalah Kita tidak akan menemui lagi ladang milik warga alias yang akan Kita temui tanaman hutan yang masih perawan. Medan menuju puncak lebih mendaki dan ciri utama hutan di gunung Sumatera adalah basah tidak berpasir sehingga berguna sekali memakai sepatu tracking terutama ketika turun akan sangat membantu Kita. Sesekali suara orang utan yang saling sahut menyahut menemani pendakian Kami. Beruntung Kami tidak disambut pacet selama pendakian, padahal sedang musim hujan.

Jarak antar Pos relatif sama dan membutuhkan waktu yang relatif sama. Pos 2 berciri ada 3 pohon yang ranting atasnya menyatu seperti membentuk kaki. Pos 3 dan 4 berciri tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon besar. Pemandangan mulai terlihat indah ketika pendakian dari Pos 4 menuju Pos 5. Kawah Gunung Rajabasa di sebelah kiri terlihat membentuk cekungan besar. Kawah ini berbeda dengan kawah-kawah gunung yang Saya lihat sebelumnya. Seperti kawah di Dieng misalkan yang mengeluarkan asap, tetapi kawah di Gunung Rajabasa ini tidak terlihat mengeluarkan asap.


Terlihat dari atas kawah Gunung Rajabasa tertutupi jenis tanaman yang sama, coba Saya konfirmasi ke Indra yang sudah pernah menuju kawah ini. Ternyata memang benar bahwa pohon-pohon yang menutupi kawah ini mempunyai keseragaman dengan tinggi sekitar 2 meter. Hal ini yang sering membuat para pendaki berputar-putar untuk menuju "Batu Cukup" yang disekitarnya terlihat ada tanah lapang. Konon Batu Cukup ini bisa menampung berapapun orang yang berada di atasnya sehingga dinamakan Batu Cukup. Pusat mistis Gunung Rajabasa sendiri berada di kawah terutama sekitar Batu Cukup ini. Para pendaki yang mempunyai misi khusus biasanya bermalam di area kawah ini.

In Post 5, We found terminology 15 step through peak's Rajabasa Mountain. Its mean We only need around 15 step to be in the Peak of Rajabasa Mountain. Finally after climbed around 2,5 hours, We succeed to achieve our goal. So, what I felt at the time? Amazing yes amazing. Its something will be addict to climb others mountain. I'm saying thanks to James, Indra, Habib, Fandi, Deni. Especially for Indra thanks a lot. You're good boy. Also for Bule and his dog, Culik.














Thanks Rajabasa Mountain!

5 komentar:

Bisa anterkan muncak rajabasa gak y akhir juni ini?

Bisa temeni muncak rajabasa gak y akhir juni ini?

bisa minta anterkan atau info guide dsana gak y?

gimana bung jadi berangkat? sory baru buka komentarmu. dateng aja langsung ke desa sumur kumbang tanya penduduk setempat si bule. orang situ pasti tau semua

Di tunggu pendakian berikutnya bung..
Salam Lestari..
MAPALA UNILA Asep Perdiansyah, S.Pd.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Blogger Template by Blogcrowds